5

bentuk bentuk kandang puyuh






yang harus di sediakan untuk memulai peternakan puyuh

1. Sebidang pekarangan untuk kandang selua 5 m x 12 m
2.Bangunan untuk kandang terdiri dari bahan :
a. Kayu usuk untuk rangka bangunan
b.Bambu untuk dinding
c. Asbes untuk atap
d. Kawat setrimin untuk kandang bagian dalam
e. Pipa pralon besar untuk tempat makanan dan minuman
f. Instalasi listrik untuk penerangan
g.Ember besar dan perlengkapannya
Modal dari bahan - bahan di atas menghabiskan dana sekitar Rp 6.200.000
Ukuran kandang di atas bisa menampung burung puyuh sebanyak 2000

ekor.Sedangkan modal awal untuk pembelian makanannya selama kurang
lebih 35 hari menghabiskan dana sebesar Rp 3.000.000.Setelah bibit puyuh
dipelihara sampai 35 hari maka puyuh tersebut mulai bertelur dan setelah 2
bulan penuh maka seluruh burung puyuh sudah bisa bertelur setiap hari.Saat
dipelihara 35 s/d 42 hari burung puyuh baru bertelur kurang lebih 50 % atau
sekitar 10 kg dari 2000 ekor yang dipelihara.

Pemasaran telur puyuh sudah tidak menjadi masalah karena pihak investor
sudah siap membelinya dengan harga Rp 165 perbutir. Teknis pemberian
makan dan minumnya dilakukan setiap jam 07.00 WIB dan jam 15.00
WIB.Rata -rata perekor burung puyuh menghabiskan 22 gram makanan.
Kebutuhan air minum dari 2000 ekor perharinya menghabiskan air sekitar 40
liter.Pengambilan kotorannya setiap 2 hari sekali dan akan terkumpul
sebanyak 2 zak yang dapat dipergunakan untuk rabuk tanaman.Harga
makanan saat ini sebesar Rp 240.000 / zak untuk makanan yang halus dan
Rp 213.000 perzak untuk makanan yang agak kasar.

2

bertenak puyuh mulai di gemari

PETERNAK burung puyuh kini kembali bergairah menekuni usahanya. Sementara harga jual telur burung puyuh pun cenderung stabil.*

CIANJUR, (PRLM).-Minat sejumlah masyarakat pedesaan di Kabupaten Cianjur bagian Selatan untuk beternak burung puyuh mengalami kegairahan sejak setahun terakhir. Perkembangan ini menyusul meningkatnya pangsa pasar komoditas tersebut ke pasar Jakarta dan sekitarnya, sehingga harga telur burung puyuh relatif stabil baik kepada para peternak.

Peternak burung puyuh dari Kecamatan Campaka, Cianjur, Eman, Jumat (14/5) mengatakan, perkembangan ini tak terlepas dari serapan konsumen yang menggemari keragaman menu makanan berbahan telur puyuh. Selain itu, makan telur puyuh kembali menjadi keunikan, karena ukurannya kecil dan rasanya gurih.

Beberapa peternak lain, mengatakan melihat adanya tren di kalangan anak muda yang senang bepergian, yang belakangan banyak membawa bekal telur puyuh. Makan burung puyuh rebus dirasakan praktis dimakan, misalnya sambil camping, atau dibakar membuat sate telur.

Oleh sejumlah pedagang asong, telur puyuh sering dijual Rp 1.000,00/lima butir, sedangkan dalam bentuk kemasan, sering dijual Rp 6.000,00-8.500,00/kemasan plastik. Beberapa karyawan toko ritel mengatakan, permintaan telur puyuh relatif stabil, namun pada waktu-waktu tertentu sering meninggi. (A-81/kur) ***

0

Penyakit _ penyakit pada puyuh

b4yu:Puyuh (Coturnix-coturnix Japonica) merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut "Quail", merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.Seperti halnya unggas lain, ada berbagai macam penyakit yang bisa menyerang puyuh. Berikut penjelasan mengenai berbagai penyakit yang sering menyerang puyuh.



1. Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus. Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat. Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
2. Tetelo (NCD/New Castle Disease)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulai, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala "tortikolis", yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh. Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju steril, serta melakukan vaksinasi NCD.
3. Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular. Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengkerut dan sayap lemah menggantung. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.
4. Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan. Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium.
5. Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin. Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah. Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfeksi.
6. Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular. Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersin, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir, kadang kepala dan leher agak terpuntir. Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
7. Aspergillosis
Penyebab: cendawan, Aspergillus fumigatus. Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang. Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
8. Cacingan

Penyebab: sanitasi yang buruk. Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah. Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.

0

Bagaimana Menentukan Jenis Kelamin Puyuh

Poultryindonesia.com, Tips. Pada usaha budidaya puyuh untuk produsi telur keberadaan puyuh jantan harus diminimalkan, karena selain mengganggu ketenangan puyuh berina juga memboroskan ransum. Untuk itu peternak harus jeli dalam menentukan jenis kelamin anak puyuh sebelum dipeliharannya.



Di Indonesia, kini perkembangan budidaya puyuh sudah semakin mantap, baik sebagai usaha komersial maupun usaha sampingan. Semakin meluas dan meningkatnya perkembangan peternakan puyuh antara lain disebabkan meningkatnya kesadaran

masyarakat akan kebutuhan protein hewani, serta diterapkannya teknologi moderen tentang pemeliharaan unggas.

Khusus untuk usaha produksi telur, puyuh jantan harus disingkirkan, karena dapat mengganggu ketenangan puyuh betina. Telur-telur yang dihasilkan betina juga akan cepat

rusak dan membusuk karena adanya embrio. Di samping itu juga menambah beban karena memboroskan ransum. Tetapi dalam kondisi tertentu, puyuh jantan juga sangat diperlukan, misalnya untuk menghasilkan telur yang bisa ditetaskan. Hanya saja

keperluannya relatif sedikit. Cukup dua sampai tiga ekor untuk sepuluh betina. Inilah yang mengakibatkan nilai jual puyuh jantan menjadi rendah di mata peternak, khususnya peternak pengusaha telur.Hal ini sebenarnya bisa dihindari bila peternak mampu melakukan pemisahan

jenis kelamin (sexing) anak puyuh sebelum dipelihara. Menurut Budi Rahayu (1984), menentukan jenis kelamin puyuh tidaklah sulit. Cara yang paling mudah adalah dengan melihat warna bulu. Hal ini bisa ditentukan setelah anak puyuh berumur 3 minggu, sebab

pada usia inilah anak-anak puyuh bulunya sudah tumbuh sempurna, terutama pada Cortunix cortunix japonica (puyuh asal Jepang). Perbedaan jantan dan betina pada Cortunix cortunix japonica adalah dengan melihat bulu dada. Pada burung puyuh jantan

warna bulu penutup bagian dada adalah merah coklat (sawo matang), tanpa terdapat garis atau bercak-bercak hitam. Sebaliknya pada burung betina bulu dadanya merah coklat dan terdapat garis atau bercak-bercak hitam.

Puyuh juga dapat dibedakan jenis kelaminnya setelah berumur lebih dari 1,5 bulan, yakni dengan mengenal suaranya. Puyuh jantan akan berkokok nyaring seperti ayam hutan, sedang betina tidak. Ciri lainnya adalah bobot badan. Umumnya puyuh betina memiliki bobot badan yang lebih besar dibandingkan puyuh jantan. Puyuh betina

dewasa biasanya memiliki bobot antara 110-160 gram dan puyuh jantan dewasa berbobot antara 100-140 gram. Begitu pula bentuk pantatnya, puyuh jantan pantatnya bulat dan besar sedang si betina lebih kecil.

Metode kloaka

Penentuan kelamin anak puyuh dengan melihat warna bulu memang paling mudah dan praktis. Tetapi susahnya harus menunggu terlebih dulu sampai puyuh berumur 3 minggu dan tumbuh semua bulunya. Bagi pengusaha ternak komersial praktek

serupa ini jelas tidak ekonomis dan mempertipis keuntungan. Hal ini pasti tidak dikehendaki. Itulah sebabnya mengapa metode kloaka lebih disukai para pengusaha untuk menentukan jantan-betinanya.

Dengan menggunakan metode kloaka anak puyuh sudah bisa dipilih dan ditentukan pemeliharaannya lebih lanjut, sehari setelah keluar dari penetasan. Saat itu

anak puyuh bobotnya baru mencapai 8 gram dan lubang duburnya baru selebar 3 milimeter. Penentuan jantan-betina adalah dengan meneliti secara seksama bagian lubang dubur atau kloakanya. Pemeriksaan tersebut sebenarnya sangat sederhana dan mudah.

Caranya, dengan memegang anak puyuh memakai tangan kiri, dengan punggung menghadap si pemeriksa lalu kaki mengarah keluar serta kepala tunduk kebawah.

Selanjutnya pantat dan punggung dipegang dengan telunjuk dan ibu jari, kaki diletakkan antara jari tengah dan jari manis, serta leher diletakkan antara jari manis dan kelingking.

Dengan demikian posisi anak puyuh dalam keadaan menungging. Pada posisi seperti inilah penentuan jenis kelamin bisa kita lakukan.

Pertama, urut dahulu perut anak puyuh ke arah dubur sampai keluar kotorannya. Kotoran dibersihkan dengan kain atau kapas, selanjutnya dubur dibuka dan diraba-raba.

Perabaan atau pemeriksaan dilakukan dengan jari sampai ditemukan tonjolan atau lipatan pada dinding kloaka. Kalau tidak ada tonjolan, berati itu anak puyuh betina. Tapi kalau

terasa ada tonjolan, anak puyuh tersebut berjenis kelamin jantan. Tonjolan kecil tersebut sebenarnya juga dapat kita saksikan bentuknya menggunakan kaca pembesar dan

penerangan lampu 75 watt. Bentuk tonjolan pada puyuh berkelamin jantan mirip seperti bentuk jantung. Tetapi sayangnya tak semua orang bisa melakukan penentuan kelamin

dengan metode ini, karena untuk menjadi ahli dan terampil diperlukan latihan berulang kali.